Rabu, 26 September 2018

     
Home / Internasional / Amerika Suram Dibawah Trump

Amerika Suram Dibawah Trump

E-mail   Email Berita
Cetak  Print Berita
PDF  PDF Berita
ULANG tahun pertama menampilkan wajah suram di bawah kepemimpinan Donald Trump. Baru genap satu tahun, Trump sebagai presiden Amerika Serikat terus diwarnai perdebatan sengit antaranggota parlemen AS soal anggaran yang berujung pada penutupan sebagian layanan pemerintah pada Jumat (19/1) malam waktu setempat.

Akibatnya, ratusan ribu pekerja sektor publik akan terpaksa bekerja tanpa mendapat bayaran. Sebelumnya, monumen Patung Liberty di New York juga telah tertutup untuk umum.

Aktivitas militer dan layanan federal yang sangat penting masih akan terus berjalan. Namun, anggota pasukan AS tidak akan menerima gaji sampai tercapai kesepakatan untuk menjalankan kembali pemerintahan.

Penutupan layanan pemerintahan AS sendiri telah terjadi empat kali sejak 1990. Pada penutupan terakhir pada 2013, lebih dari 800 ribu pegawai pemerintah harus dirumahkan sementara.

"Ini peringatan satu tahun masa kepresidenan saya dan pihak Demokrat ingin memberi saya hadiah yang bagus," sindir Trump, yang berasal dari Partai Republik, dalam cicitannya di Twitter.

"Partai Demokrat jauh lebih peduli kepada imigran ilegal daripada kepada anggota militer atau keselamatan warga negara kita di perbatasan," tambah Trump.

Para legislator berbeda pendapat antara lain mengenai masalah anggaran pertahanan dan imigrasi, termasuk amendemen rancangan undang-undang untuk hampir 800 ribu imigran yang dibawa masuk ke Amerika Serikat secara ilegal ketika mereka masih anak-anak.

Gedung Putih berkukuh tidak akan bernegosiasi dengan Partai Demokrat mengenai aturan pelayanan bagi imigran.

Juru bicara senat Mitch McConnell pada Sabtu (20/1) malam mencoba untuk mengatasi kemungkinan memburuknya situasi pemerintahan. Ia telah menjadwalkan pemungutan suara berikutnya untuk pembahasan RUU anggaran pada awal pekan ini. "Bisa saja waktu pemungutan suara itu dipercepat," tegasnya.

Karena cemas akan polarisasi politik yang kian meruncing, ribuan pengunjuk rasa kemarin turun ke jalan-jalan di Los Angeles, New York, dan Washington.

Mereka antara lain menyatakan menentang kebijakan Trump dan mendukung pemberian hak yang lebih besar bagi kaum perempuan.afp/voa/hym/micom/lintas



Berita Terbaru
Berita Lainnya


Advertise